Bagaimana Bladder Stone Terbentuk?

Sebelum masuk ke bladder stone, kita pahami dulu bagaimana metabolisme torto vs manusia bekerja.

Manusia membutuhkan air sebagai media untuk membuang sisa metabolisme. Utamanya adalah limbah urea/nitrogen hasil metabolisme protein. Alurnya:

  • Ginjal menyaring darah,
  • Limbah yang disaring dikirim ke kandung kemih bersama dengan air,
  • Di kandung kemih antri untuk dibuang.

Jadi kandung kemih fungsinya “hanya” untuk mengatur timing kapan kita kencing.

Nah, pada tortoise agak beda.

  • Ginjal menyaring darah,
  • Limbah dikirim ke kandung kemih bersama dengan air,
  • Air diregulasi di kandung kemih untuk diputuskan apakah butuh diserap lagi ke dalam tubuh,
  • Finally, limbah dibuang.

Saat torto memutuskan di kandung kemih bahwa air mereka cukup dan kelebihan air perlu dibuang ➞ ini adalah kencing yang biasa kita lihat agak kekuningan. Kita sebut ini kencing biasa.

Saat torto memutuskan air perlu diserap ulang ke dalam tubuh, maka yang dibuang ke luar tubuh hanyalah limbahnya saja ➞ ini adalah URATES yang biasa kita lihat putih kapur.

Kencing biasa = air + limbah nitrogen larut

Urates = limbah nitrogen padat

Lalu di mana bladder stone?

Saat torto memutuskan untuk membuang limbah dan menyerap semua air, ternyata ada limbah yang masih bersisa di tubuh,

Awalnya sedikit,

Keesokan harinya terus flush limbah lagi, tapi masih tersisa lagi saking banyaknya,

Demikian terus, lama-lama yang tersisa tadi mengkristal, mengeras, karena di kandung kemih torto sering berada dalam kondisi kering (air diserap ulang).

Jadilah bladder stone. Bladder = kandung kemih, stone = batu.

Jadi walaupun setiap hari torto keluar urates, masih berpotensi terbentuk BS? Ya.

Kok bisa?

  1. Kebanyakan limbahnya. Dalam sekali dorong harusnya keluar “semua”, ternyata masih ada. Lagi dan lagi terus menerus melimpah limbah yang masuk.
  2. Sering dalam fase dehidrasi ringan. Saat torto merasa kurang air, ia akan menyerap ulang air yang akan dibuang, sehingga yang dibuang seringnya hanya urates.
  3. Sering stress kronis. Saat torto berada dalam kondisi stres kronis, mekanisme pertahanan tubuhnya menyimpan air. Diantara penyebab stres: agresi teritorial saat berbagai spesies & ukuran disatukan dalam 1 enclosure.
  4. Kurang jemur. Torto sangat membutuhkan panas untuk menjalankan metabolismenya. Makin sering dia tanpa panas yang proper, makin lambat metabolismenya. Artinya proses buang limbah juga lama dan ada yang tertahan. Pelan-pelan ini bisa mengkristal juga.
  5. Kurang rendem. Torto membutuhkan stimulus “aman” untuk membuang/mengosongkan kandung kemihnya. Sinyal bahwa “aku lagi tidak butuh air. Air melimpah ruah. Buang yang ada di tubuh dan topup air yang baru”. Semakin lama frekuensi dia kencing, makin tinggi potensi BS terbentuk.

——

Jadi bagaimana mencegahnya?

  1. Jangan terlalu sering kasih makanan tinggi limbah protein. Makanan dengan limbah tertinggi seringnya adalah pelet pabrikan high protein. Memang growth secepat kilat, namanya disuplai protein. Tapi metabolisme torto tidak didesain untuk grow secepat itu.
  2. Jangan sering dehidrasi. Monitor saja apakah torto kita sering kencing hanya air. Kalau dia sering kencing tanpa urates, itu bukan berarti dia tidak membuang limbah uratesnya. Limbah tsb dilarutkan ke dalam kencingnya, dan dia tetap membuang limbahnya kok.
    • Tidak harus setiap hari membuang urates. Jika setiap hari keluar urates, maka bisa jadi limbahnya sangat banyak. Mungkin ada komposisi pakan yang salah di kita.
  3. Jangan dibuat stres. Stres biasanya muncul pada agresi. Reptil itu hewan soliter. Sendirian itu lebih baik & bisa membuat hidupnya lebih baik. Stres kronis itu tidak terlihat, dan saat sudah terlihat biasanya sudah nyaris terlambat.
  4. Jangan lupa rendam dan jemur. Kalau indoor, pastikan lampunya betul-betul memenuhi kebutuhannya. Walau tidak suka direndam, tetap torto harus direndam minimal 2-3x dalam seminggu; termasuk torto desert sekalipun.

Ps.

Bladder stone bisa saja terbentuk dari kalsium. Ini terjadi jika husbandry sangat buruk, jarang terpapar matahari/UVB sehingga kalsium tidak terserap efisien ke dalam tulang kemudian malah dibuang lewat urin.