Kalau mengacu ke The Tortoise Table (TTT), ada satu jenis sayuran yang sebenarnya sangat bagus untuk tortoise, terutama sebagai sumber serat dan nutrisi: chicory.
Masalahnya, begitu kata “chicory” disebut, banyak keeper di Indonesia langsung bingung. Dicari di pasar tidak ada. Ke supermarket juga sering tidak ketemu. Akhirnya dianggap tidak relevan untuk kondisi lokal.
Padahal chicory itu sebenarnya ada di Indonesia, hanya saja namanya berbeda.

Di sini chicory biasanya dijual dengan nama endive atau selada endive; walaupun secara botani dia bukan selada. Nama latinnya Chicorium endivia. Bentuknya memanjang, daunnya agak tebal, teksturnya lebih renyah dibanding selada keriting. Biasanya diletakkan bersebelahan dengan romaine, bayam, atau lettuce lain di rak sayur.
Di kota-kota besar, termasuk Bandung, endive relatif mudah ditemukan di supermarket seperti Superindo. Harganya pun kurang lebih setara dengan romaine, jadi sebenarnya tidak ada alasan khusus untuk menghindarinya selain karena tidak familiar.
Kalau bicara kualitas, endive berada satu tingkat di atas selada biasa. Kandungan seratnya lebih baik, rasio kalsium terhadap fosfornya relatif aman, dan nutrisinya tidak sekosong selada keriting. Kadar airnya juga tidak berlebihan. Kalau mudah ditemukan, endive sangat layak dijadikan salah satu sayuran utama, bukan sekadar variasi.
Kalau disusun kasar untuk sayuran non-brassica yang relatif mudah ditemui, urutannya kira-kira seperti ini:
selada keriting → selada romaine → endive.
Selada keriting itu sebenarnya lebih banyak air dan minim serat. Romaine sedikit lebih baik, tapi tetap bukan pilihan ideal jika dijadikan basis utama terus-menerus. Endive masih jauh dari sempurna, tapi secara biologis jauh lebih masuk akal untuk tortoise.
Lalu bagaimana dengan timun?
Timun ini sering menipu. Secara teknis dia makanan, tapi secara praktis lebih mirip minuman. Kandungan airnya sekitar 95%. Makan banyak pun, yang masuk ke tubuh sebagian besar cuma air.
Untuk tortoise savannah atau Mediterranean yang berevolusi dengan pakan berserat tinggi dan relatif kering, kondisi ini justru berat. Ginjal dipaksa bekerja lebih keras untuk mengatur kelebihan cairan. Timun bukan racun, tapi kalau diberikan rutin, manfaatnya hampir tidak ada dan bebannya justru ada.
Tortoise sendiri sangat mudah tertipu oleh aroma, warna, dan tekstur makanan. Mereka bisa terlihat sangat lahap pada makanan yang secara nutrisi miskin, dan cuek pada makanan yang sebenarnya lebih tepat untuk tubuhnya.
Di titik ini, keeper memang tidak bisa sekadar mengikuti selera tortoise. Mau tidak mau, kita yang harus memilihkan makanan yang benar-benar masuk akal secara biologis. Bahkan dengan niat baik dan ketelitian pun masih bisa salah langkah, apalagi kalau asal mengikuti apa yang “kelihatan hijau dan dimakan lahap”.